Biografi Singkat Abu Dzar Al Ghifari

Jundab adalah seorang pemimpin besar perampok yang sering menebar teror di negeri-negeri sekitarnya. Ia lahir dari keluarga perampok Ghiffar yang tinggal di dekat kafilah Makkah hingga Syria. Ketika dia bertaubat dan masuk islam, ia lebih terkenal dengan nama Abu Dzar.

Walaupun merupakan perampok, pada dasarnya dia berwatak baik. Kerusakan dan derita korban akibat serangannya kemudian menjadi sebuah titik balik dalam perjalanan hidupnya. Ia bukan saja menyesali perbuatannya, tetapi juga mengajak rekannya untuk mengikuti dia masuk islam. Hal ini menyebabkan kemarahan besar pada sukunya, sehingga dia diusir dari tanah kelahirannya.

Bersamaan dengan insyafnya Jundab, bertambah lagi satu pribadi revolusioner paling jujur yang pernah dikenal dalam sejarah peradaban islam. Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis, ia lalu hijrah ke Nejed Atas. Di kota ini mereka menetap dirumah seorang paman dari pihak ibunya.

Tetapi, dari sini kemudian dia pindah ke sebuah kampung dekat Makkah. Hal ini disebabkan pemikiran-pemikirannya yang revolusioner, sehingga tidak disukai oleh orang sekitar.

Sebelum masuk islam Abu Dzar sudah mulai menentang pemujaan berhala. Beliau berkata, “Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi Besar Islam.”

Abu Dzar adalah sahabat yang sangat telaten dalam berdakwah

Saudara Abu Dzar lah yang membawa berita gembira tentang agama islam. Pada saat itu agama islam yang dibawa Nabi Muhammad memang mengguncangkan kota Makkah.

Pada saat itu, di Makkah masih banyak berhala dan patung sesembahan, dan masih sering dikunjungi oleh kaum Quraisy.

Abu Dzar mendapat kesempatan bertemu dengan Rasulullah dan belajar langsung tentang agama islam dari beliau. Sekitar sebulan lebih ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Rasulullah, sebelum akhirnya memeluk agama islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.

Pada saat itu suasana sangat mencekam, karena permusuhan kaum kafir terhadap kaum muslim. Abu Dzar secara terbuka memimpin sembahyang dan berkhutbah tentang islam di Ka’bah. Akhirnya tindakannya ini berpotensi menyulut kerusuhan.

Pada suatu hari Abu Dzar diserang oleh penyembah berhala dari suku Quraisy, tetapi dia diselamatkan oleh paman Nabi yaitu Abbas. Abbas kemudian mengingatkan mereka bahwa Abu Dzar adalah anggota penting suku Ghiffar yang mendiami jalur perdagangan mereka menuju Syria. Jika Abu Dzar terancam, bisa saja lalu lintas perdagangan mereka bisa terancam.

Sejak menjadi muslim, Abu Dzar telah membaktikan diri sepenuhnya kepada agama islam. Begitu hebatnya keyakinan beliau terhadap islam, hingga akhirnya mendapat kedudukan khusus di sisi Rasulullah, bahkan termasuk sahabat terdekat dan terpercaya di kalangan para sahabat.

Abu Dzar ditugaskan oleh Rasulullah untuk mengajarkan islam di kalangan sukunya sendiri. Dan akhirnya beliau berhasil mengemban tugasnya tersebut. hampir seluruh anggota sukunya masuk islam.

Rasulullah sangat menghargai ketekunan Abu Dzar dalam berdakwah. Ketika Rasulullah harus meninggalkan Madinah untuk melakukan perang pakaian compang-camping, Abu Dzar diangkat sebagai imam dan administrator kota tersebut. ketika Rasulullah saw hendak meninggal, beliau memanggil Abu Dzar. Sambil memeluk, beliau bersabda, “Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya.”

Ucapan Rasulullah ternyata memang benar, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shalih. Seumur hidupnya, ia mencela sikap kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, ketika kaum Quraisy hidup bergelimang harta.