Berbagai Keistimewaan Ibnu Mas’ud

Allah swt telah menganugerahinya hikmah, sebagaimana Dia telah memberinya sifat takwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke dalam dari suatu masalah, kemudian mengungkapkannya secara menarik dan tepat.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Islamnya (Umar bin Khatthab) adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, sedang pemerintahannya menjadi suatu rahmat.”

Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini. Kaitannya dengan bekerja, ia berkata, “Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur dan tak ada usaha untuk kepentingan dunia maupun akhirat.”

Perkataan yang diucapkannya banyak juga yang bersayap. Salah satunya ia pernah berkata, “Sebaik-baik kaya ialah kaya hati, sebaik-baik bekal ialah takwa, seburuk-buruk buta ialah buta hati, sebesar-besar dosa ialah berdusta, sejelek-jelek usaha ialah memungut riba, seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim, siapa yang memaafkan orang akan dimaafkan Allah, dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah.”

Hidup Ibnu Mas’ud merupakan cerminan dari hidup seorang mukmin yang teguh untuk tetap berjalan di jalan Allah dan Rasul-Nya, serta menjunjung tinggi agama-Nya.

Rasulullah saw bersabda, “Tuan-tuan menertawakan betis Ibnu Mas’ud, padahal di sisi Allah keduanya lebih berat timbangannya daripada Gunung Uhud.”

Ibnu Mas’ud memang berasal dari keluarga miskin, seoran buruh upahan. Tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya salah seorang imam di antara imam-imam kebaikan. Ia bagaikan petunjuk dan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Dia telah dikaruniai taufiq dan nikmat oleh Allah swt, sehingga termasuk dalam golongan 10 sahabat Rasulullah saw yang pertama masuk islam; orang-orang yang selama hidupnya menerima berita gembira karena memperoleh ridha dari Allah swt dan surga-Nya.

Ibnu Mas’ud terjun dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah saw.beliau tidak pernah absen dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan di kubu Rasulullah, begitu pun di masa-masa para khalifah sepeninggal Rasulullah.

Bahkan ia turut menyaksikan dua buah imperium dunia (Persia dan Byzantium Timur) membukakan pintu dan tunduk saat dimasuki panji-panji islam.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika aku sedang mengikuti Rasulullah saw di perang Tabuk, aku terbangun di tengah malam. Tampak olehku nyala api di pinggir perkemahan. Lalu kudekati api tersebut. kiranya Rasulullah saw bersama Abu Bakar dan Umar sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzulbijadain an Munzani yang ternyata telah wafat.

Rasulullah saw ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah saw berkata, ‘Ulurkanlah lebih dekat kepadaku saudara tuan-tuan itu!’ lalu mereka mengulurkan kenazah itu kepadanya. Tatkala jenazahdiletakkan di lubang lahat, beliau berdoa, ‘Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridahi pula ia oleh-Mu!’ alangkah baiknya sekiranya akulah yang menjadi pemilik liang kubur itu!”

Nah, itulah satu-satunya cita-cita yang diharapkan oleh Ibnu Mas’ud selagi hidupnya. Ia ingin jasadnya dimakamkan dan didoakan sendiri oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabat besarnya. Itulah cita-cita dari seseorang yang telah mendapatkan petunjuk dari Allah swt, telah cukup memperoleh dari Al Qur’an, dan menerima didikan langsung dari Rasulullah saw.