Inilah Kisah Hidup Sahabat Rasulullah Abdullah bin Mas’ud

Ibnu Mas’ud walaupun telah menjadi orang kepercayaan Rasulullah saw, tetapi hal ini semakin menambah kekhusyukannya dalam beribadah dan semakin hormat kepada Rasulullah saw.

Mungkin gambaran yang paling tepat untuk melukiskan akhlak beliau ialah sikapnya ketika menyampaikan hadis dari Rasulullah saw setelah wafatnya. Walaupun Ibnu Mas’ud jarang menyampaikan hadis Rasulullah saw, tetapi setiap kali ia menggerakkan kedua bibirnya untuk mengatakan bahwa ia mendengar hadis dan sabda Rasulullah saw, maka saat itu juga tubuhnya gemetar hebat dan tampak gugup serta gelisah. Hal ini dikarenakan ia takut alpa hingga keliru menaruh kata-kata.

Kecenderungan unik Ibnu Mas’ud ini diakui oleh teman-temannya yang melihat langsung saat ia mengalami gejala-gejala tersebut. dalam hal ini, ‘Amar bin Maimun berkata, “selama setahun saya bolak-balik ke rumah Ibnu Mas’ud, saya tidak pernah mendengar ia menyampaikan hadis dari Rasulullah saw, kecuali sebuah hadis yang disampaikannya pada suatu hari. Ia berkata, ‘Telah bersabda Rasulullah saw.’ Seketika itu juga, ia tampak gelisah dan keringat bercucuran dari keningnya. Kemudian, ia mengulangi kata-kata yang tadi, mengucapkan sabda Rasulullah saw, dan mengakhirinya dengan berkata, ‘Kira-kira demikianlah disabdakan oleh Rasulullah saw.”

Al Qamah bin Qais pernah berkata, “Biasanya, Ibnu Mas’ud berpidato setiap hari kamis sore untuk menyampaikan hadis. Tidak pernah saya dengar ia berkata, ‘Telah bersabda Rasulullah saw kecuali satu kali saja. Saat itu, saya melihat ia bertelekan tongkat, dan tongkatnya itu pun bergetar dan bergerak-gerak.”

Kisah lain diceritakan Masruq. Ia berkata, “Pada suatu hari, Ibnu Mas’ud menyampaikan sebuah hadis, ia berkata, ‘Saya dengar Rasulullah saw,’ belum selesai ia meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ia gemetar dan pakaiannya bergemetar pula. Kemudian ia berkata, ‘Atau kira-kira demikian…’ atau kira-kira seperti itulah…”

Sikap tunduk dan patuhnya Ibnu Mas’ud kepada Rasulullah saw, disamping kecerdasannya dalam ilmu agama, ini merupakan berkah sekaligus bukti ketakwaannya yang tak ternilai.

Penilaian dan ketakjubannya kepada sosok Rasulullah saw tetap sama dan tidak berubah, baik semasa Rasulullah saw masih hidup maupun setelah wafat.

Ibnu Mas’ud dikatakan tak mau berpisah dari Rasulullah saw, baik saat bermukim maupun dalam bepergian. Bahkan, ia turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Peranannya dalam perang Badar meninggalkan kenangan yang tak dapat dilupakan, yakni robohnya Abu Jahal oleh tebusan pedang kaum muslimin.