Pengertian Habitat dan Pengertian Ekosistem

Dalam bidang ilmiah sering sekali didengar istilah habitat dan ekosistem. Tetapi mungkin banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan habitat dan apa yang disebut ekosistem. Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini saya akan menjelaskan pengertian dari keduanya (habitat dan ekosistem).

Pengertian habitat

Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Pada dasarnya, habitat adalah lingkungan—lingkungan fisik—di sekeliling populasi suatu spesies yang memengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut. Menurut Clements dan Shelford (1939), habitat adalah lingkungan fisik yang ada di sekitar suatu spesies, atau populasi spesies, atau kelompok spesies, atau komunitas.

Dalam ilmu ekologi, bila pada suatu tempat yang sama hidup berbagai kelompok spesies (mereka berbagi habitat yang sama) maka habitat tersebut disebut sebagai biotop. Bioma adalah sekelompok tumbuhan dan hewan yang tinggal di suatu habitat pada suatu lokasi geografis tertentu.

Pengertian ekosistem

Ekosistem adalah komunitas yang terdiri dari organisme hidup dan komponen tak hidup seperti udara, air, dan tanah mineral. Ekosistem dapat dipelajari dengan dua cara berbeda. Mereka dapat dianggap sebagai koleksi tanaman dan hewan yang saling bergantung, atau sebagai sistem terstruktur dan masyarakat yang diatur oleh aturan umum. Komponen hidup (biotik) dan non-hidup (abiotik) berinteraksi melalui siklus nutrisi dan aliran energi. Ekosistem termasuk interaksi antar organisme, dan antara organisme dan lingkungannya. Ekosistem dapat berukuran apa saja tetapi setiap ekosistem memiliki ruang terbatas yang spesifik. Beberapa ilmuwan melihat seluruh planet sebagai satu ekosistem.

Energi, air, nitrogen, dan mineral tanah adalah komponen abiotik esensial dari suatu ekosistem. Energi yang digunakan oleh ekosistem terutama berasal dari matahari, melalui fotosintesis. Fotosintesis menggunakan energi dari matahari dan juga menangkap karbon dioksida dari atmosfer. Hewan juga memainkan peran penting dalam pergerakan materi dan energi melalui ekosistem. Mereka mempengaruhi jumlah biomassa tanaman dan mikroba yang hidup dalam sistem. Ketika materi organik mati, karbon dilepaskan kembali ke atmosfer. Proses ini juga memfasilitasi siklus nutrisi dengan mengubah nutrisi yang tersimpan dalam biomassa mati kembali ke bentuk yang dapat digunakan lagi oleh tanaman dan mikroba lainnya.

Ekosistem dikendalikan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal seperti iklim, bahan induk yang membentuk tanah, topografi dan waktu masing-masing mempengaruhi ekosistem. Namun, faktor eksternal ini tidak dipengaruhi oleh ekosistem. Ekosistem bersifat dinamis: mereka mengalami gangguan periodik dan sering dalam proses pemulihan dari gangguan masa lalu dan mencari keseimbangan. Faktor internal berbeda: Mereka tidak hanya mengontrol proses ekosistem tetapi juga dikendalikan oleh mereka. Cara lain untuk mengatakan ini adalah bahwa faktor internal tunduk pada loop umpan balik.

Manusia beroperasi dalam ekosistem dan dapat mempengaruhi faktor internal dan eksternal. Pemanasan global adalah contoh efek kumulatif dari aktivitas manusia. Ekosistem memberikan manfaat, yang disebut “jasa ekosistem”, yang diandalkan orang untuk mata pencaharian mereka. Pengelolaan ekosistem lebih efisien daripada mencoba mengelola spesies individu.

Tidak ada definisi tunggal tentang apa yang membentuk ekosistem. Ekolog Jerman Ernst-Detlef Schulze dan rekan penulis mendefinisikan ekosistem sebagai daerah yang “seragam terkait pergantian biologis, dan berisi semua fluks di atas dan di bawah area tanah yang sedang dipertimbangkan.” Mereka secara eksplisit menolak penggunaan seluruh tangkapan sungai oleh Gene Likens sebagai “demarkasi yang terlalu luas” untuk menjadi satu ekosistem, mengingat tingkat heterogenitas dalam area seperti itu.

Penulis lain menyatakan bahwa ekosistem dapat mencakup wilayah yang jauh lebih besar, bahkan seluruh planet. Schulze dan rekan penulis juga menolak gagasan bahwa log busuk tunggal dapat dipelajari sebagai ekosistem karena ukuran arus antara log dan sekitarnya terlalu besar, relatif terhadap siklus proporsi dalam log. Filsuf sains Mark Sagoff menganggap kegagalan untuk mendefinisikan “jenis objek yang ditelitinya” menjadi hambatan bagi pengembangan teori dalam ekologi ekosistem.

Ekosistem dapat dipelajari dalam berbagai cara. Mereka termasuk studi teoritis atau studi lebih praktis yang memantau ekosistem tertentu dalam jangka waktu yang lama atau melihat perbedaan antar ekosistem untuk lebih memahami bagaimana mereka bekerja. Beberapa penelitian melibatkan percobaan dengan manipulasi langsung dari ekosistem. Studi dapat dilakukan pada berbagai skala, mulai dari studi seluruh ekosistem hingga mempelajari mikrokosmos atau mesokosme (representasi sederhana dari ekosistem). Ahli ekologi Amerika Stephen R. Carpenter berpendapat bahwa eksperimen mikrokosmos dapat “tidak relevan dan pengalihan” jika mereka tidak dilakukan bersamaan dengan studi lapangan yang dilakukan pada skala ekosistem. Percobaan mikrokosmos sering gagal untuk memprediksi secara akurat dinamika tingkat ekosistem.