Abu Bakar adalah Raja Yang Merakyat

Abu Bakar ialah sahabat yang terpercaya. Rasulullah saw berkata, “saya tidak tahu apakah ada orang yang melebihi Abu Bakar dalam kedermawanannya.” Ketika Nabi Muhammad sakit keras, beliau menyuruh Abu Bakar menggantikannya sebagai imam shalat. Beliau menjadi imam shalat sebanyak 17 kali selama Rasulullah saw masih hidup.

Rasulullah saw berkata, “Saya sudah membayar semua kewajiban saya, kecuali kepada Abu Bakar yang akan mendapat ganjarannya pada hari kiamat.”

Umar berkata, “Wahai Abu Bakar, anda adalah orang terbaik setelah Rasulullah.”

Ali juga berkata, “Orang-orang terbaik diantara umat islam setelah Rasulullah saw ialah Abu Bakar dan Umar.”

Abu Bakar mencetuskan berbagai perubahan sosial, politik dan ekonomi yang sangat fundamental dalam sejarah manusia.

Abu Bakar adalah khalifah sekaligus raja, tetapi beliau jarang hilir mudik dengan iringan pengawal atau teman. Beliau makan makanan yang murah dan mengenakan pakaian lusuh. Rakyat dapat bertemu dengannya kapan saja.

Abu Bakar pernah memerintahkan pembuatan daftar tuntunan moral dan pedoman tingkah laku untuk diterapkan prajurit islam.

Setiap tentara diharuskan agar tidak melakukan penyelewengan, menipu orang, ingkar kepada atasan, memotong bagian badan manusia, membunuh orang-orang yang sudah tua, para wanita, anak-anak, menebang dan membakar pohon buah-buahan, membunuh hewan kecuali disembelih untuk dimakan, menganiaya pendeta kristen, dan lupa kepada Allah atas karunia-Nya.

Dalam menegakkan aturan tersebut, Abu Bakar mengangkat Umar sebagai qadhi atau hakim agung. Sedangkan Utsman, Ali dan Zaid bin Tsabit bekerja sebagai khatib.

Abu Bakar selalu cermat dalam mengambil uang dari baitul mal. Beliau menggunakan uang itu secukupnya saja untuk memenuhi keperluan hidup harian. Pada suatu ketika, istrinya minta dibelikan manisan, tapi Abu Bakar tidak mempunyai uang lebih untuk membelinya. Untunglah, istrinya memiliki beberapa uang, lalu diberikannya kepada suaminya untuk dibelikan manisan. Melihat uang tersebut, Abu Bakar kemudian berkata kepada istrinya bahwa tabungan itu melebihi jumlah uang yang biasa mereka ambil dari Baitul Mal. Lalu beliau mengembalikan uang itu ke baitul Mal dan dikurangi jatahnya di masa mendatang.

Abu Bakar mengerjakan semua pekerjaan dengan tangannya sendiri. Beliau tidak pernah mengizinkan orang lain membantu pekerjaan rumah tangganya.

Apabila dia dipuji, ia akan berkata, “Ya Allah, Engkau lebih tahu akan diriku daripada aku sendiri, dan aku mengetahui diriku sendiri lebih daripada orang-orang ini. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui dan janganlah mengakibatkan aku bertanggung jawab atas pujian mereka itu.”

Abu Bakar sangat sederhana, pada suatu hari seorang putra mahkota Yaman tiba di Madinah dengan pakaian yang mewah. Dia melihat Abu Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna coklat, yang selembar menutupi pinggang dan selembar lagi menutupi bagian badan yang lainnya.dia begitu terharu melihat kesederhanaan khalifah, sehingga dia langsung membuang pakaiannya sambil berkata, “di dalam islam, saya tidak menikmati kepalsuan seperti ini.”

Abu Bakar pernah bertanya kepada petugas baitul mal tentang banyaknya tunjangan yang telah ia ambil. Petugas itu mengatakan bahwa dia telah mengambil 6 ribu dirham selama dua setengah tahun masa kekhalifahan. Mendengar hal itu, dia memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya diberika ke baitul mal. Dan amanat terakhir sebelum beliau meninggal pun dilaksanakan.

Selain itu, unta dan sepotong baju dia amanatkan agar diberikan kepada khalifah baru kelak setelah dirinya meninggal. Ketika barang tersebut dibawa kepada Umar, maka beliau menangis dan berkata, “Abu Bakar, engkau telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit.”

Pada malam sebelum meninggal, Abu Bakar berkata kepada Siti Aisyah tentang jumlah kain yang digunakan Rasulullah saw sebagai kain kafan. Maka Siti Aisyah menjawab, “tiga.” Seketika itu juga Abu Bakar meminta Siti Aisyah untuk mencuci dua lembar kain yang masih melekat di badannya agar bersih dan membeli satu lembar kain kekurangannya.

Dengan berurai air mata, Siti Aisyah berkata bahwa sang khalifah tidaklah sedemikian miskinnya, sehingga tidak mampu membeli kain. Khalifah menjelaskan bahwa kain yang baru lebih berguna bagi orang yang hidup daripada orang yang sudah mati.